logo spin

parasitic infections and inflammatory diseases: the web of immune responses, host genetics and environmental exposure

home about contact agenda links

Funding
This research project is mainly being funded by the Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences
additional financial contribution is obtained from:
- EU funded project COINFECT
- EU funded project TRANCHI
- WOTRO project “Maturation of immune responses in children born to helminth infected mothers: impact on early childhood

 

Abstrak (in Bahasa) (in English)
Sistem imun tubuh manusia terus menerus terpapar oleh mikroorganisma dan zat berbahaya maupun tidak berbahaya dari lingkungan. Respon imun baik alamiah maupun adaptif terhadap paparan tersebut menentukan frekuensi dan perkembangan suatu penyakit infeksi. Respon tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik.

Sudah diketahui bahwa beberapa patogen tertentu yang menyebabkan infeksi kronik, seperti cacing usus, mempunyai aktivitas imunomodulator yang kuat yang dapat mempengaruhi respon terhadap ko-infeksi. Di banyak negara berkembang, infeksi malaria dan cacing usus merupakan ko-endemik, artinya banyak anak yang terinfeksi oleh kedua parasit tersebut. Kami bermaksud menyelidiki hubungan imun antara infeksi cacing usus dan malaria pada daerah ko-endemik di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan apakah adanya infeksi cacing usus yang meningkatkan respon imun supresor dapat meningkatkan kerentanan seseorang untuk terinfeksi malaria, namun infeksi cacing usus tersebut dapat mencegah terjadinya malaria serebral.

Respon imun tubuh manusia juga dipengaruhi oleh paparan polutan lingkungan dan endotoksin, dimana keduanya merupakan pemicu proses inflamasi. Penduduk desa di Indonesia sangat bergantung pada pemakaian minyak tanah sebagai bahan bakar dan mempunyai pola higienis yang buruk. Kondisi itu menjadi paparan tinggi terhadap polutan dan endotoksin. Sangatlah penting untuk mengetahui bagaimana paparan lingkungan itu mempengaruhi sistem imun dan interaksinya terhadap mikroorganisme. Penelitian semacam ini belum pernah dilakukan di negara berkembang. Pada akhirnya, susunan genetik seseorang memegang peranan dalam terbentuknya respon imun. Pertanyaan pertama yang kami ajukan adalah bagaimana lingkungan penduduk dan genetik pejamu mempengaruhi ko-infeksi antara cacing usus dan malaria. Pertanyaan kedua adalah bagaimana susunan genetik, paparan lingkungan, dan infeksi parasit mempengaruhi penyakit inflamasi seperti alergi.

Indonesia adalah negara transisi dari endemik penyakit infeksi dan pola hidup tradisional menjadi penyakit infeksi dapat dikontrol dan pola hidup modern. Perubahan itu akan meningkatkan penyakit inflamasi seperti alergi dan penyakit autoimun. Oleh karena itu, kami giat membangun jaringan penelitian untuk mempelajari penyakit infeksi dan inflamasi, yang akan sangat penting di masa yang akan datang. Kerjasama antara 3 universitas di Belanda dan 2 universitas di Indonesia akan mendatangkan para ahli untuk melaksanakan studi multidisiplin ini di Nangapanda yang merupakan daerah semi urban dan Anaranda sebagai daerah rural, di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. sebagai tempat survei epidemiologi.

flores island Flores people flores

Daerah itu termasuk endemi infeksi malaria dan cacing usus, sehingga memungkinkan studi untuk mencari interaksi antara infeksi tersebut dan lingkungan di daerah pedesaan hingga perkotaan. Geographical Positioning and Information System (GPS/GIS) akan membantu pengumpulan data spasial, demografi, lingkungan dan klinis. Hal itu akan memungkinkan dilakukannya analisis multivariat untuk mengungkapkan kecenderungan, ketergantungan dan hubungan yang biasanya tidak dapat dilakukan bila berupa data tabular.

Survei epidemiologi akan dikaitkan dengan ilmu dasar yaitu imunologi, biokimia, dan genetik untuk memahami mekanisme molekuler dari interaksi yang ditemukan pada studi epidemiologi. Microassay immunologi yang telah dikembangkan untuk studi populasi akan diterapkan untuk memperoleh data sistem imun alamiah dan adaptif. Sementara itu, studi genomik/proteomik sel T dan antigen presenting cells akan dilakukan di kelompok yang dapat mewakili populasi.

Sampel lingkungan dalam rumah yang telah dikumpulkan dari tiap wakil rumah akan diteliti kandungan karbonnya dan kuman mikroba dengan biochemical assay. Model in vitro akan digunakan untuk memeriksa interaksi antara sel imun dan faktor linkungan, serta memahami mekanisme dari interaksi tersebut.

Untuk studi genetik, sampel akan dikumpulkan dan polimorfisme akan dianalisis berdasarkan penelitian keluarga, seperti halnya studi kasus kontrol. Kandidat gen yang berperan pada infeksi, alergi, serta respon imun pro dan anti inflamasi menjadi target gen yang akan dipelajari.

Data-data itu akan dianalisis berdasarkan kerangka konseptual di bawah ini untuk menentukan interaksi multipel antara variabel yang berkaitan dan tidak berkaitan, yaitu:

Negara berkembang perlu menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi ke dalam perekonomian mereka. Itu merupakan mandate dari program SPIN untuk memfasilitasi hal tersebut. Proposal ini adalah hasil kerjasama antara peneliti Indonesia dan Belanda. Dengan melibatkan peneliti muda sebanyak 9 mahasiswa pasca sarjana, program ini akan bermanfaat untuk masa depan.